Hisab Rukyat
Alhamdulillah hari raya Idulfitri 1432 H telah
dapat dirayakan dengan khidmat. Walaupun ada perbedaan tentang hari jatuhnya
Idulfitri itu, di mana pada satu sisi ada yang menjatuhkannya pada hari Selasa
30 Agustus 2011 dan di sisi lain ada yang menjatuhkannya pada hari Rabu 31
Agustus 2011, namun masing-masing pihak telah dapat menjalankannya dengan damai
dan rukun, tanpa terjadi pertikaian antara pihak-pihak yang merayakannya pada
hari berbeda itu. Bahkan masyarakat umum yang tidak begitu memahami sumber
masalah perbedaan itu dapat memilih hari yang mereka inginkan untuk
beridulfitri.
Akan tetapi meskipun Idulfitri telah berjalan dengan damai dan rukun, tetap
saja tersisa permasalahan yang timbul dari perbedaan itu. Tidak dipungkiri
bahwa perbedaan jatuhnya hari raya itu adalah suatu ketidaknyamanan karena ada
ketidakbersamaan kaum Muslimin dalam merayakannya. Di satu sisi ada yang saling
kunjung ke rumah tetangga dan makan-makan, sementara yang lain masih berpuasa.
Namun juga harus diakui bahwa penyatuan jatuhnya hari Idulfitri itu tidak
gampang, tidak semudah sepasang remaja bikin janji ke pantai bersama, “Mas
Minggu besok rekreasi bareng ya di pantai, soalnya habis ujian semester
pikiranku buntet banget, perlu refreshing.” “Ya, setuju, aku
juga sama. Dah, besok kuampiri ya!” Selesailah masalah. Kesepakatan untuk
“rekreasi Minggu besok” tidak memerlukan pertimbangan ilmiah yang mendalam
karena itu hanya soal selera dan bisa diputuskan dengan prinsip “setuju-setuju
saja”. Namun tentu tidak demikian halnya dengan penentuan jatuhnya hari raya
semisal Idulfitri atau Iduladha. Masalah ini bukan soal selera. Masalah ini
memerlukan suatu kajian panjang dan mendalam baik dari segi ilmu syariah maupun
dari segi ilmu astronomi. Keputusan itu tidak dapat diambil berdasarkan prinsip
“setuju-setuju saja”. Ini semua tentu menjadi tantangan para ilmuwan terkait
baik dari bidang syariah maupun astronomi.
Diskusi mengenai masalah ini cukup ramai. Dan dalam diskusi yang ramai itu ada
pakar yang langsung menyalahkan Muhammadiyah karena terlalu jumud berpegang
kepada hisab wujudul hilal (walaupun Muhammadiyah juga dapat mengatakan hal
yang sama bahwa pihak lain terlalu kaku berpegang kepada rukyat atau hisab
imkanur rukyat 2 derajat yang tidak ilmiah itu). Dikatakan, “sumber masalah
utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal.”
Dikatakan lagi, “Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya,
seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama
ketika dibandingkan dengan metode rukyat. Tentu saja mereka [adalah]
anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab,
seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.” “Dari segi astronomi,
kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di
kalangan ahli falak.”
0 komentar:
Posting Komentar