Sabtu, 23 Maret 2013

Hisab Rukyat

Alhamdulillah hari raya Idulfitri 1432 H telah dapat dirayakan dengan khidmat. Walaupun ada perbedaan tentang hari jatuhnya Idulfitri itu, di mana pada satu sisi ada yang menjatuhkannya pada hari Selasa 30 Agustus 2011 dan di sisi lain ada yang menjatuhkannya pada hari Rabu 31 Agustus 2011, namun masing-masing pihak telah dapat menjalankannya dengan damai dan rukun, tanpa terjadi pertikaian antara pihak-pihak yang merayakannya pada hari berbeda itu. Bahkan masyarakat umum yang tidak begitu memahami sumber masalah perbedaan itu dapat memilih hari yang mereka inginkan untuk beridulfitri.

            Akan tetapi meskipun Idulfitri telah berjalan dengan damai dan rukun, tetap saja tersisa permasalahan yang timbul dari perbedaan itu. Tidak dipungkiri bahwa perbedaan jatuhnya hari raya itu adalah suatu ketidaknyamanan karena ada ketidakbersamaan kaum Muslimin dalam merayakannya. Di satu sisi ada yang saling kunjung ke rumah tetangga dan makan-makan, sementara yang lain masih berpuasa. Namun juga harus diakui bahwa penyatuan jatuhnya hari Idulfitri itu tidak gampang, tidak semudah sepasang remaja bikin janji ke pantai bersama, “Mas Minggu besok rekreasi bareng ya di pantai, soalnya habis ujian semester pikiranku buntet banget, perlu refreshing.”  “Ya, setuju, aku juga sama. Dah, besok kuampiri ya!”  Selesailah masalah. Kesepakatan untuk “rekreasi Minggu besok” tidak memerlukan pertimbangan ilmiah yang mendalam karena itu hanya soal selera dan bisa diputuskan dengan prinsip “setuju-setuju saja”. Namun tentu tidak demikian halnya dengan penentuan jatuhnya hari raya semisal Idulfitri atau Iduladha. Masalah ini bukan soal selera. Masalah ini memerlukan suatu kajian panjang dan mendalam baik dari segi ilmu syariah maupun dari segi ilmu astronomi. Keputusan itu tidak dapat diambil berdasarkan prinsip “setuju-setuju saja”. Ini semua tentu menjadi tantangan para ilmuwan terkait baik dari bidang syariah maupun astronomi.
            Diskusi mengenai masalah ini cukup ramai. Dan dalam diskusi yang ramai itu ada pakar yang langsung menyalahkan Muhammadiyah karena terlalu jumud berpegang kepada hisab wujudul hilal (walaupun Muhammadiyah juga dapat mengatakan hal yang sama bahwa pihak lain terlalu kaku berpegang kepada rukyat atau hisab imkanur rukyat 2 derajat yang tidak ilmiah itu). Dikatakan, “sumber masalah utama adalah Muhammadiyah yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal.”  Dikatakan lagi, “Banyak kalangan di intern Muhammadiyah mengagungkannya, seolah itu sebagai simbol keunggulan hisab mereka yang mereka yakini, terutama ketika dibandingkan dengan metode rukyat.  Tentu saja mereka [adalah] anggota fanatik Muhammadiyah, tetapi sesungguhnya tidak faham ilmu hisab, seolah hisab itu hanya dengan kriteria wujudul hilal.” “Dari segi astronomi, kriteria wujudul hilal adalah kriteria usang yang sudah lama ditinggalkan di kalangan ahli falak.”

Selasa, 12 Maret 2013

Anak dan Isteri

Musuh utama kita ialah apa dan siapa saja yang berusaha menutupi jalan (menuju) Allah SWT, membuang-buang waktu dan harta tanpa guna. Atau, apa pun yang mengikis semangat ketakwaan kita kepada-Nya. Siapakah mereka? Mereka adalah setan yang disebut dengan jelas sebagai ‘musuh nyata’ (QS Fathir [35]: 6).
Jika istri dan anak melalaikan diri kita untuk mengingat Allah SWT, inipun akan menjadi musuh yang diwaspadai (QS At-Taghabun [64]: 14-15). Rasulullah SAW pernah memberi peringatan agar umat Islam selalu memanfaatkan waktu sebelum peluang hilang dan menjaga umur sebelum tutup usia. ”Jagalah lima sebelum lima, masa mudamu sebelum masa tuanmu, kayamu sebelum miskinmu, sehatmu sebelum sakitmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Ahmad dan Nasa’i). Setan sebagai musuh yang abstrak tentu tak mudah ditaklukkan kecuali dengan inayah Allah SWT. Dan, manusia tak punya daya dan upaya kecuali melalui pertolongan-Nya semata. Karena itu, kita diperintahkan Allah SWT untuk selalu mengulangi minta bantuan-Nya tak kurang 17 kali sehari semalam. ”Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah [1]: 4). Kata ahli hikmah dawamul hal minal muhal (tak ada keadaan yang abadi). Iman kita selalu berkurang dan bertambah. Semakin taat kepada Allah SWT, iman semakin bertambah. Dan semakin sering bermaksiat, maka kualitas iman makin berkurang. Kualitas iman ini tidak akan mengakar ke dalam hati dan keseharian, kecuali bila selalu mencontoh kebajikan orang-orang saleh, juga adanya lingkungan yang steril dari penyakit sosial. Konon pada suatu hari Hanzalah keluar rumah sembari memaki diri, ‘Dasar Hanzalah munafik!’. Abu Bakar lantas menanyakan maksud perkataan Hanzalah tadi. Hanzalah menjelaskan, ”Pada suatu hari kami di samping Rasulullah SAW dan menceritakan perihal surga dan neraka, seolah kami benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri. Tapi, tiap kali keluar dari situ, kami bercanda dan tertawa-tawa lagi bersama istri dan anak-anak. Kami sering melupakan, dan banyak yang kami sia-siakan.” Abu Bakar merespons, ”Demi Allah, aku pun pernah mengalami apa yang kau alami.” Lalu mereka sama-sama menghadap Rasulullah SAW dan mengadukan kejadian itu. Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya jika engkau keluar dari sampingku seperti ini niscaya malaikat akan menyertai kalian baik di lantai dan di jalan-jalan. Tetapi, wahai Hanzalah, itu tak apa-apa. Sesaat saja sesaat saja.”

Blogger Templates by OurBlogTemplates.com 2007